kuliahkomunikasi.com gudangnya ilmu komunikasi

Skip to content


Aku Berbicara, Aku Bernyanyi

AKU BERBICARA, AKU BERNYANYI

Berbicara adalah hal yang sangat menyenangkan. Sejak kecil saya sangat cerewet. Teman-teman saya selalu mendorong saya untuk berbicara di depan mereka. Walau sebenarnya saya tidak terlalu berani untuk berbicara di depan umum. Saya termasuk orang yang mempunyai kecemasan tingkat tinggi, jika saya mulai berbicara atau bernyanyi di depan umum, saya pasti akan merasa sangat haus. Saya memang senang berbicara di mana pun saya berada, namun satu hal yang paling membuat saya tidak bisa bicara yaitu, ketika orang lain menyuruh saya untuk bicara. Saya senang berbicara secara spontan, baik itu dalam debat atau pun dalam musyawarah keluarga. Namun, jika seseorang menyuruh saya untuk berbicara secara formal, saya akan mendadak tidak berani.

Ketidakberanian saya untuk berbicara sebenarnya dimulai dari SD. Saya takut di tertawakan oleh teman-teman saya karena terlihat bodoh jika ada di depan kelas, saya takut dimarahi oleh guru jika ternyata saya salah ngomong, dan saya takut jika guru atau teman saya menilai bahwa apa yang saya utarakan itu adalah hal yang bodoh.

Sebenarnya saya sangat ingin menangis. Saya punya banyak ide yang cemerlang tentang banyak hal. Terutama di dalam keluarga. Saya sebagai anak ingin membuat keluarga besar kami mempunyai suatu usaha atau bisnis. Namun sepertinya setiap rapat keluarga besar, saya selalu dianggap sebagai anak kecil yang tidak bisa ngomong apa-apa. Saya memang merasa paling ‘bodoh’ disana. Saudara-saudara saya semua sudah besar. Apalagi saya mempunyai saudara laki-laki yang sekarang menjadi dosen ‘killer’ di HI Unpad. Tentu saja dia jago ngomong, dan pintar. Sebenarnya, saya minder untuk berbicara karena apa yang mungkin akan saya utarakan akan di anggap sebagai suatu lelucon oleh keluarga saya. Kadang saya kesal juga, saya ini kan sama-sama manusia, sama-sama di sekolahkan, dan saya juga ngga kalah sama saudara saya yang menjadi dosen itu. Mungkin keluarga saya menganggap bahwa usul yang saya ajukan hanya main-main dan tidak pantas untuk dipertimbangkan. Saya sering ingin angkat tangan untuk berbicara, namun hasilnya saya malah di tertawakan. Inilah awal mula dari ketidakpercayaan diri saya dalam berbicara.

Satu hal yang saya pikirkan adalah, apakah saya ini kurang banyak latihan, kurang pengetahuan, atau memang tidak pandai berbicara di depan umum? Ya.. ketiganya adalah hal yang terjadi pada diri saya. Saya memang tidak berbakat jadi pembicara. Yang kedua, saya memang tidak begitu suka baca, jadi pengetahuan umum saya kurang. Dan yang ketiga adalah, saya memang merasa tidak berbakat jadi seorang pembicara. Namun, ketiga hal itu sudah luntur saat ini. Setiap hari saya melakukan hal sedikit ‘aneh’ dan ‘gila’ dengan berpura-pura menjadi artis, mc, dan penyiar. Saya melakukan itu setiap hari di kamar mandi. Berpura-pura di wawancara infotainment, berpura-pura sedang memandu suatu acara, dan merekam hasil siaran saya di komputer kesayangan saya, Ruben. Saya pun telah meningkatkan pengetahuan umum saya semenjak saya masuk di Fikom Unpad Bandung ini. Saya menyadari bahwa sebagai anak Fikom, saya harus bisa berbicara dan mengetahui tentang kejadian yang terjadi, dengan kata lain saya harus selalu up to date. Masalah bakat atau tidak bakat menjadi seorang pembicara, saya kira bisa diatasi. Saya beranggapan bahwa bakat itu bisa di gali jika kita mau berusaha. Dan satu hal yang menjadi suatu dorongan bagi diri saya adalah ilmu pengetahuan. Sejak SMA saya sangat suka berdebat. Di kelas saya termasuk murid yang jago debat. Saya bisa membabat habis teman-teman saya dengan pertanyaan kritis dan pernyataan yang membuat mereka K.O. Jika saya tidak mempunyai pengetahuan dan tidak mendalami materi, maka saya tidak akan bisa mendebat mereka sampai K.O. Sejak SMA lah, saya mulai untuk mencoba lebih percaya diri dalam berbicara.

Semenjak saya mengetahui bahwa saya adalah orang yang mempunyai kemampuan dalam hal berbicara, tekad saya untuk masuk Fikom semakin kuat. Sejak SMP saya memang ingin masuk Fikom, namun debat yang terjadi di SMA membuat saya semakin bersemangat untuk mempelajari tentang bagaimana untuk menjadi seorang komunikator yang handal.

Hal-hal yang pernah saya lakukan ketika menjadi seorang pembicara adalah, saya pernah menjadi panelis di sebuah diskusi panel di SMA saya. Saya sangat senang menjadi panelis ketika itu, memang agak sedikit gugup karena takut mendapatkan pertanyaan yang sulit dari peserta panelnya. Namun Alhamdulillah saya ditolong oleh ilmu-ilmu yang telah saya pelajari sebelum saya memberikan materi. Saya juga sering menjadi moderator pada persentasi-persentasi di SMA. Berbicara adalah makanan sehari-hari saya ketika di SMA, apalagi sekolah kami memakai kurikulum berbasis kompetensi yang dimana siswa dituntut untuk lebih aktif dalam segala hal daripada gurunya. Guru hanya sebagai ‘perpustakaan hidup’.

Sebagai seorang penyanyi, saya juga dituntut untuk bisa berbicara di depan umum. Menyanyi dan berbicara adalah hal yang sama-sama penting. Dalam bernyanyi kita menyampaikan sesuatu kepada penonton dan membuat mereka mengerti dan memberikan apresiasi terhadap nyanyian yang kita sampaikan, tentu saja dengan makna tersendiri. Berbicara pun sama, dengan berbicara kita menyampaikan pesan yang diolah semenarik mungkin sehingga penonton memberikan apresiasi terhadap apa yang kita bicarakan. Namun bedanya, saya lebih suka bernyanyi daripada berbicara. Padahal, jika ‘INSYA ALLAH’ saya memang ditakdirkan untuk kelak menjadi seorang penyanyi komersil, saya harus bisa berbicara juga, tentu saja untuk menarik perhatian khalayak saya. Timbulnya yang dinamakan ‘BISA BERBICARA’ menurut saya adalah bagaimana kita bisa menumbuhkan ‘PERCAYA DIRI’ yang hebat. Inilah hal yang paling sulit saya tumbuhkan. Saya selalu merasa tidak percaya diri, padahal apa yang harus dibuat tidak percaya diri. Saya mempunyai penampilan yang tidak buruk, saya mempunyai modal untuk bisa berbicara, saya hanya merasa takut mengecewakan orang banyak dan ditertawakan. Saya paling tidak bisa membuat diri saya terkesan ‘TOLOL’ di depan orang banyak, padahal menjadi tolol pun jika kita mempunyai sesuatu yang menarik, akan menjadi sangat menyenangkan untuk dilihat.

Seperti yang dikatakan oleh bu Wenny dalam pelajaran Retorika, bahwa kiat-kiat meningkatkan percaya diri adalah dengan membuat daftar kesuksesan, atau mengingat-ingat kesuksesan yang terdahulu. Setelah saya mendapatkan materi tentang itu, saya selalu mencoba untuk mengingat segala kesuksesan yang saya raih. Namun ketika saya berhadapan dengan suasana yang berbeda, saya merasa hati ini menciut lagi. Saya mendadak tidak peduli dengan kesuksesan yang saya raih, yang ada di depan saya adalah orang yang berbeda yang saya pikir tidak akan mempunyai persepsi yang sama tentang kemampuan saya. Intinya, mengingat kesuksesan bukanlah cara yang ampuh untuk meningkatkan rasa percaya diri saya.

Hal yang membuat saya merasa percaya diri adalah cara yang mungkin ‘lebih picik’. Saya selalu melihat orang yang lebih parah dari saya untuk mendapatkan kepercayaan diri saya. Saya selalu melihat kebawah dalam melakukan banyak hal. Karena jika saya melihat ke atas terus, maka saya akan menciut dengan sendirinya. Banyak orang bilang bahwa kita jangan pernah puas dengan apa yang kita miliki, syukuri dan terus gali lagi kemampuan yang kita miliki. Saya memang akan terus meng ‘eksplor’ kemampuan yang saya miliki. Namun jika saya melihat ke atas, rasanya saya ingin menangis, dan mendadak hilang kepercayaan diri. Jika tidak ada orang yang lebih parah, berarti saya akan menganggap diri saya paling parah. Inilah gejala yang tidak pernah bisa hilang dari diri saya semenjak saya masih kecil.

Demam panggung adalah hal yang paling ‘NORMAL’ terjadi. Kata-kata ini akan terus tengiang di telinga dan hati saya. Ini merupakan hal yang lumayan ampuh untuk meningkatkan kepercayaan diri ketika saya sedang berbicara di depan umum. Kadang saya mengakalinya dengan menganggap teman-teman saya sebagai orang lain yang tidak akan pernah bertemu lagi dengan saya. Namun tetap saja walau terlihat normal, saya tidak bisa menganggap diri saya dalam keadaan normal jika ada di depan umum. Saya takut salah bicara, takut tidak bisa menjawab pertanyaan, takut membuat orang lain kecewa, dan sebagainya. Namun, rasa takut ini selalu saya obati dengan berdoa kepada Allah SWT. Berdoa adalah hal yang paling WAJIB dilakukan sebelum berbicara di depan umum. Tanpa berdoa, saya tidak yakin akan menjalankan tugas saya sebagai seorang pembicara yang baik.

Retorika adalah ilmu belajar berbicara dengan efektif dan efisien. Saya mendapatkan banyak sekali pelajaran berharga dengan belajar retorika ini. Ilmu berbicara ternyata juga punya tehnik tersendiri yang tidak bisa sembarang di lakukan. Berbicara itu ternyata seperti bernyanyi, mempunyai tehnik tersendiri.

Saya berharap dengan belajar ilmu Retorika, bisa membuat saya lebih dan lebih dalam mengeksplor kemampuan berbicara saya. Saya ingin kemampuan bernyanyi saya seimbang dengan kemampuan saya berbicara.

Similar Posts:

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google Bookmarks
  • Blogplay

Posted in Penulisan. Tagged with .

0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.

Some HTML is OK

(required)

(required, but never shared)

or, reply to this post via trackback.

Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes

http://kuliahkomunikasi.com supported by http://cretindo.com