kuliahkomunikasi.com gudangnya ilmu komunikasi

Skip to content


Sing it Loudly, Irene!

SING IT LOUDLY, IRENE!!

karya : Nadia Sabrina Dwiumami

210111060681

BAB I

Angin bertiup kencang, hujan turun begitu lebat, malam hari ini cuaca benar-benar tidak bersahabat. Aku berteduh di sebuah halte yang berada di depan asrama kampus. Malam ini aku akan pergi ke tempat dimana aku bisa berkumpul bersama orang-orang yang tidak menyenangkan.

Namaku Irene Anggira. Aku biasa dipanggil Irene oleh teman-temanku. Aku adalah seorang mahasiswa Universitas Musik Boston yang terletak di kota Boston, Amerika Serikat. Keahlianku adalah bermain piano, dan aku mengambil jurusan musik klasik. Menjadi seorang pianis adalah suatu hal yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Aku begitu ingin menjadi seorang penyanyi, namun takdir tidak menghendakinya. Sebenarnya aku bisa bernyanyi, namun hal yang menyedihkan terjadi padaku sehingga membuatku berhenti bernyanyi.

Malam ini aku akan pergi ke Classical Café. Ini adalah perkejaan yang sudah aku lakukan selama 2 tahun belakangan ini. Pekerjaanku adalah bermain piano klasik di café ini. Sungguh pekerjaan yang membosankan, karena setiap hari aku harus berhadapan dengan lagu-lagu klasik yang membuat aku muak. Entah itu karya Beethoven, Mozart, Schubert, Chopin, dan sebagainya. Sebenarnya kalau ingin belajar klasik aku lebih memilih untuk belajar di Jerman, aku sendiri tidak tahu mengapa aku sampai nyasar di Boston.

Di sini aku tinggal sendirian. Aku tidak mempunyai teman yang berasal dari Indonesia, namun aku bertemu teman-teman baru yang berasal dari beberapa negara. Salah satu temanku adalah Xiao Li, ia berasal dari China dan dia adalah teman sekamarku di asrama Dia adalah wanita yang sangat perkasa, dan dia selalu melindungku dari orang-orang yang menggangguku. Tubuhnya yang kecil tidak sebanding dengan tenaganya yang kuat. Xiao Li adalah seorang pemain biola yang handal, dan ia mengambil jurusan Modern Music. Tentu saja kehidupannya tidak se’boring aku. Dia biasa bermain di café modern yang sangat trendy dan banyak kedatangan tamu yang tidak formal seperti di caféku. Temanku yang satu lagi adalah George. Dia berasal dari Australia, negara tetangga Indonesia. Wajahnya sangat tampan, orang-orang menyebutnya Brad Pitt gadungan karena memang dia mirip Brad Pitt. Rambutnya yang pirang membuat daya tariknya sangat kuat, ia pun mempunyai mata hijau yang jernih. Kulitnya yang agak coklat membuat dia semakin terlihat Hot. Hal yang paling menonjol dalam dirinya adalah bokongnya yang kekar, uuuhh… aku yakin, tidak ada wanita yang kuat melihat bokongnya yang sangat menggoda-godi itu. Apalagi jika melihat permainan gitarnya rocknya, sungguh LUAR BIASA!! Namun, sayangnya.. walaupun dia sangat tampan, seksi, mempunyai bokong yang indah, tubuh yang kekar, dan gitaris rock, dia adalah seorang GAY. Bagaimana pun, aku tetap tidak bisa suka padanya, karena dia sudah mengaku padaku semenjak kita pertama kali menjadi sahabat.

Aku, Xiao Li, dan George adalah tiga sahabat yang paling dekat. Kami tinggal di asrama yang sama. Walaupun kami sangat dekat, namun aliran musik yang kami kuasai sangat berbeda. Aku beraliran klasik, Xiao Li beraliran pop dan R&B, dan George beraliran rock. Asrama kami adalah asrama khusus untuk murid di Universitas Musik Boston. Setiap hari asrama ini selalu dipenuhi oleh suara musik yang menggema. Walaupun aku terkadang merasa terganggu olehnya, namun aku tetap harus membiasakan diri dengan semua ini.

Hal yang paling menggangguku adalah orang-orang di jurusan vokal. Mereka bernyanyi dengan indahnya, dan sangat lantang! Hal ini membuat aku semakin iri. Namun sebagian dari mereka ada juga yang bernyanyi dengan ‘parah’nya. Terkadang aku berpikir ‘God,I Can Do Better’, namun tetap saja aku harus menerima dengan lapang dada tentang ketidakbisaan aku dalam bernyanyi. Bukannya aku tidak bisa bernyanyi, karena sudah jelas ibuku adalah seorang biduan.

Berbicara tentang ibuku, ada hal yang harus aku ceritakan. Hal ini menyangkut dengan ketidakbisaan aku dalam menyanyi. Sebenarnya ibuku sudah meninggal. Ibuku yang bernama Anggerti adalah seorang biduan terkenal pada masanya. Ia mengalami kerusakan pada pita suara yang menyebabkan ia tidak bisa bernyanyi, dan akhirnya ia meninggal karena memaksakan bernyanyi saat keadaan kritis di rumah sakit. Semenjak kepergian ibu, ayah melarangku untuk bernyanyi. Namun aku sangat mencintai musik, bagiku musik adalah hidupku yang tidak akan pernah bisa aku tinggalkan sampai aku menutup mata. Aku terus memaksa ayah agar ia mengijinkanku untuk bermain musik, sampai akhirnya ia memutuskan untuk mengijinkanku bermain musik dengan satu syarat, yaitu bermain piano klasik.

Aku tahu maksud ayah, ia sengaja memasukanku kedalam dunia klasik yang aku benci untuk membuatku muak dengan musik. Tetapi aku tidak akan pernah menyerah, aku akan mengerahkan seluruh tenagaku untuk bermain klasik yang sangat aku benci ini. Walaupun bermain piano klasik tetap kujalani dengan penuh ‘paksaan’, aku tetap cinta bernyanyi.

Aku mempunyai satu orang kakak laki-laki bernama Arga. Ia adalah orang pertama yang mengajari aku bermain piano klasik. Entah mengapa walaupun bermain piano klasik membuatku bosan, namun aku tetap murid terbaik di kelas klasikku ini. Aku memang cepat mempelajari sesuatu, mungkin tanpa menyukainya aku akan tetap bisa memainkannya. Kakakku adalah seorang pianis kebanggaan ayahku. Ia bisa memainkan lagu Moonlight Sonata karya Beethoven dengan sangat sempurna. Apalagi memainkan karya-karya Chopin, ia sangat menjiwainya. Melihat kakakku bermain piano selalu mengingatkanku pada ibu yang dengan merdunya bernyanyi di atas panggung.

BAB II

Pagi hari yang cerah. Aku harus bersiap-siap pergi ke kampus untuk mengikuti mata kuliah sejarah musik klasik. Sebenarnya ini adalah mata kuliah yang paling aku benci. Karena selain pelajarannya yang sungguh membosankan, dosennya pun sangat amat membosankan. Bayangkan saja, dosennya yang bernama Mrs. Hazel sudah berumur 86 tahun. Bicaranya saja tidak terdengar, namun dia selalu memberikan tugas yang katanya “SESUAI DENGAN APA YANG AKU BICARAKAN TADI!!” kadang aku berpikir, apakah Mrs.Hazel itu gila? Bagaimana bisa mengerjakan tugas-tugasnnya yang sangat BANYAK itu, sementara mendengarkan dia berbicara saja aku sudah merasa sangat kesal.

Ya itulah keluhanku selama aku berada di Universitas Musik Boston ini. Setelah selesai mandi dan bersiap-siap pergi ke kampus, terdengar langkah kaki yang sepertinya sudah tidak asing lagi.

“Irenee.. Irenee..!”

Suara yang melengking itu terdengar dari bawah, siapa lagi kalau bukan Xiao Li. Ia berlari ke arahku dengan membawa secarik kertas.

“Nih.. nih.. liat deh pamflet ini!”

“Ada apa Li? Kertas apa ini?” tanyaku pada Xiao Li

“KOMPETISI BAND !!!” jawabnya dengan keras.

ARGH!! Sial!! Lagi-lagi kompetisi BAND!! Aku sangat muak dengan semua ini! kadang aku berpikir, apakah benar Xiao Li ini adalah sahabatku. Dia kan tahu bahwa aku adalah seorang PIANIS KLASIK!! Mana mungkin aku tiba-tiba muncul dalam kompetisi BAND! Ini namanya mengolok-olokku.

“Maksud kamu apa Li..? kamu kan tahu sendiri, aku tidak akan mungkin mengikuti kompetisi ini, apalagi untuk gabung sama kalian. Kamu saja sama George yang ikut!”

“Baca lagi dong ren.. perhatikan baik-baik!”

Aku membaca pamflet itu sekali lagi. Di situ tertera bahwa jumlah peserta maksimal adalah tiga orang. Dua pemain alat musik, dan satu lagi adalah penyanyi.

“Hmm.. Dua orang pemain alat musik, dan satu lagi adalah penyanyi. Memangnya siapa yang akan menyanyi?” Tanyaku dengan heran pada Xiao Li

“Ya kamu lah ren!”

“HAH.. AKU??”

“ia kamu.. emang siapa lagi diantara kita yang bisa nyanyi?” Ujar Xiao Li dengan tenangnya. GILA aja, adalah hal yang tidak mungkin untukku dalam bernyanyi. Kalau papa sampai tahu, bisa-bisa aku dikeluarkan dari Universitas ini!

“Sorry Li, aku ngga mungkin ikut band ini! Kamu kan tau sendiri papa aku gimana.” Xiao Li pun memasang wajah kecewa.

“Yaah.. ngga lagi yah.. huh.. payah ah kamu, lumayan padahal hadiahnya 10.000 dollar. Ngga pengen kaya yah kamu? Ngomong-ngomong papa kamu itu memang aneh yah! Masa anaknya sendiri ngga boleh nyanyi.” Xiao Li pun pergi tanpa basa-basi, tentu saja dengan wajahnya yang nampak tidak bersahabat. Aku tidak pernah menceritakan rahasiaku tentang ibu kepada Xiao Li karena aku paling benci di kasihani atau diberi simpatik.

Sebenarnya ini bukan pertama kalinya Xiao Li mengajakku mengikuti kompetisi band seperti ini. Bahkan aku pernah menolak hal yang lebih parah daripada ini. Aku pernah membuat Xiao Li dan George malu di depan para juri, ketika kami mau bermain musik di Kompetisi Bintang Boston. Namun, ketika kami akan tampil, aku tiba-tiba mengundurkan diri karena ayahku menelepon dari Indonesia. Ternyata ia mengetahui bahwa aku akan tampil sebagai penyanyi. Entah dapat dari mana informasi tentang aku, namun jika ayah sampai tahu aku menyanyi aku tidak tahu bagaimana nasibku selanjutnya.

Aku sangat salut pada Xiao Li dan George. Mereka sangat tabah menghadapiku, dan mereka sangat setia padaku. Mereka tidak pernah mencari penggati aku untuk mengikuti kompetisi. Mereka selalu menungguku sampai aku diperbolehkan untuk menyanyi di publik. Mereka selalu menganggapku sebagai leader dan pianis yang mempunyai suara emas.

Seperti biasa, setiap pagi aku selalu berjalan kaki ke kampus dengan membawa segepok buku not balok yang berisikan lagu-lagu Beethoven, Mozart, Schubert, dan Chopin. Setiap pagi pula aku selalu dicekoki oleh lagu-lagu klasik yang membuat aku pusing. Bagaimana pun juga, musik klasik adalah makananku. Selama dua tahun aku belajar musik klasik, aku tidak pernah bermain musik dengan perasaan melainkan keahlian. Entah mengapa perasaanku tidak pernah menerima untuk menyatu dengan lagu klasik, padahal sudah dua tahun ini aku selalu mencoba untuk menyukai lagu-lagu klasik dengan sepenuh hati, namun sepertinya hanya tanganku yang bekerja sama dengan piano dan mataku yang bekerja sama dengan not balok.

Saat sampai ke kampus..

“Tok..tok..tok..” aku mengetuk pintu kelas Mrs. Hazel.

“Ya silahkan masuk..!” jawab seseorang dari dalam kelas. Nampaknya bukan Mrs. Hazel, karena ini adalah suara pria.

“Maaf.. saya terlam…”

“Selamat pagi.. Irene”

APA? KAKAK??? KAK ARGA??? Aku tidak bisa berkata-kata, aku sangat terkejut! Mengapa kakakku ada di sini? Mengapa dia menggantikan Mrs. Hazel? Apakah dia dosen mata kuliah sejarah musik klasik yang baru? Tidak mungkin! Ini sulit dipercaya! Mengapa ayah tidak memberitahu aku sebelumnya kalo memang Kak Arga akan mengajar di kampusku?

“Silahkan duduk.. Hari ini saya akan menggantikan Mrs. Hazel dalam pelajaran sejarah musik klasik.”

“i..ia..”

Aku pun duduk di kursi paling belakang dan menatap kakak. Kakak pun menatapku dengan tajam sambil menganggukan kepalanya. Entah apa maksudnya, aku tidak mengerti sama sekali. Dua jam berlangsung begitu cepat, hari ini aku sama sekali tidak bisa konsentrasi dalam belajar, sesekali kakak mengajukan pertanyaan kepadaku. Aku sama sekali tidak mengerti mengapa kakak menjadi pengajar sejarah? Setelah selesai mata kuliah, aku langsung menghampiri Kak Arga.

“Ka..”

“Ya, ada apa Irene?”

“Boleh bicara sebentar?”

Kak Arga menatapku dengan heran, dan bertanya

“Bicara apa? Ya sudah, sehabis makan siang.. temui kakak di taman belakang kampus ya..”

Kakakpun pergi menuju ruang dosen, dan aku masih menatap heran padanya. Setelah makan siang berlalu, aku langsung menghampiri kakak.

“Kak.. sudah lama nunggu ya..?”

“Engga juga, baru saja.. hm.. Boston itu sangat Indah ya, musiknya sangat beragam. Tidak seperti Jerman, yang hanya dipenuhi oleh musik klasik yang…”

Pembicaraan kakak pun langsung aku potong.

“Kak.. aku tidak minta kakak mengomentari Boston, tapi aku hanya ingin tahu kenapa kakak bisa menjadi dosen di Boston, dan menjadi dosen sejarah pula?” tanyaku dengan lantang.

“Hmm.. ngga ko.. kakak memang ingin menjadi dosen sejarah musik klasik.. untuk kakak sejarah itu adalah hal yang paling menarik. Lagipula Mrs. Hazel sudah terlalu tua untuk mengajar murid basic seperti kalian.” Jawab kakakku dengan tenang.

Kak Arga memang mempunyai pembawaan yang tenang. Ia selalu tersenyum. Wajahnya yang lembut membuat orang menjadi tenang. Aku pun selalu merasa tenang jika berbicara atau berdiskusi dengan Kak Arga. Awalnya aku ingin marah, namun setelah mendengar Kak Arga berbicara rasanya aku ingin memeluknya.

“Irene.. bagaimana kamu senang tinggal di Boston?” Tanya kakakku dengan lembut.

“Hmm..biasa-biasa saja.”

“oh.. pastinya kamu belum menyukai musik klasik kan?”

Huh.. lagi-lagi itu yang dibicarakan kakakku. Kakak memang paling tahu kalo aku anti dengan musik klasik. Katanya ini adalah sebuah karma, karena dulu aku selalu menutup telinga jika kakak memainkan piano klasik.

“ya sudahlah.. segalanya butuh proses kan?” Tanya kakak sambil mengusap kepalaku.

“hee..hee..”

Aku tidak mau berkomentar tentang musik klasik dengan kakak. Dia pasti akan memberikanku berjuta saran dan kritik tentang permainanku dan musik klasik. BOSANNNNNNNNN!!!!!!!!!!!

“Kak.. aku yakin, tujuan kakak sebenarnya bukan untuk mengajar. Pasti ayah yah yang mengutus kakak?” Tanyaku dengan jelas.

“HAHAHA.. kamu ini.. memang tau saja yah..”

“JADI BENAR YA.. AYAH!!”

“ia, dia mengutusku untuk menjaga kamu agar tidak bernyanyi!”

“memangnya kenapa sih! Aku tidak boleh bernyanyi?”

Lagi –lagi pertanyaan ini yang aku lontarkan. Aku masih tetap tidak bisa menerima larangan ayah yang melarang aku bernyanyi. Lalu kakak pun melontarkan sebuah lelucon yang membuatku tersedak.

“karena jenis pita suaramu sama dengan ibu!”

Perkataan kakakku membuat aku terdiam sejenak. Lalu kakak meralatnya sambil tertawa.

“HAHAHAHA.. aku bercanda kok dik! HAHAHHA.. sudah ya.. aku pergi dulu ke ruang dosen, jam 1 siang aku harus mengajar!”

Kakakku pergi setelah mencium keningku, dan mengusap kepalaku. Aku paling senang jika kakak mengusap kepalaku. Tangannya yang lembut membuat aku selalu terhanyut. Setelah kakak pergi, seorang laki-laki menghampiriku.

“IRENEEEEEEEE!!!!!!!!”

Ternyata dia George. Seperti biasanya, dia selalu tampak tampan dengan kaos oblongnya, celana jeans yang robek, dan rambutnya yang terlihat acak-acakan. Dia datang dan mencium pipiku.

“Aduuuhh darliingg.. kemana aja sih kamu hari ini! Tadi aku liat kamu sama cowo ganteng.. siapa tuh.. uhh.. kenalin donkk sayangg..”

Huh.. dasar George! Kenapa dia harus mengidap HOMOSEKSUAL! Padahal kalo bukan seorang GAY, aku pasti bakalan mau pacaran sama dia!

“Eh cowo gila, itu kakak aku tau! Hahaha.. sudahlah, jangan di embat lagi donk! Kamu kan udah punya Mike!” cetusku pada George.

“Kakak kamu?? aiihh.. ganteng abis, kaya adiknya.. cantik abis!!”

“hehe.. terimakasih..”

George paling bisa memujiku. Tapi, ngomong-ngomong aku memang cantik loh. Waktu pemilihan Queen and King di kampus kami, aku menjadi juaranya! Hehehe.. katanya kulitku yang coklat membuat daya tarikku sangat kuat. Apalagi permainan pianoku yang dashyat, membuatku semakin terlihat keren.

“Ngomong-ngomong ren, kamu udah dikasih tahu sama Xiao Li belum tentang kompetisi band yang tiga orang itu?” Tanya george

“ya..”

“Loh.. kok Cuma YA sih?”

“hm.. ia udah di kasih tau kok George!”

“Ah.. ga asik kamu ren, pasti ga bisa lagi kan? Hmm.. kali ini aku jamin ngga akan ketahuan sama ayah kamu deh..! lagian ini kompetisi kecil-kecilan kok!”

Aku sangat bingung menghadapi pertanyaan George yang satu ini. Aku benar-benar ingin mengikuti kompetisi itu. Tapi aku sangat takut jika ayah tau! Dia akan membuatku kehilangan musikku. Apalagi di Boston ada kakak, sekarang pengawasan terhadapku sangat ketat!

“maaf George, tapi aku benar-benar tidak bisa! Aku tidak mungkin mengikuti kompetisi itu! Cari saja penyanyi yang lain!”

“TIDAK!! KITA INGIN KAMU NATH!” teriak George padaku

Aku tidak bisa berkata-kata lagi, dan aku berlari meninggalkan George di taman. George memanggilku dengan lantang.

“IRENE..!! IRENE!!”

Mungkin saat itu, semua anak kampus mengira aku pacaran sama George dan kami putus. Tapi bukan itu yang sebenarnya terjadi. Aku meninggalkan George karena merasa tidak enak. Aku ingin George dan Xiao Li tidak terus terpatok padaku dan George, aku ingin mereka mempunyai pilihan lain selain aku! Sudah jelas aku bukan seorang penyanyi yang belajar di jurusan vokal! Aku hanya seorang pianis klasik!

Aku pun pergi ke toilet dan membasuh wajahku yang penuh dengan air mata. Aku ingin bernyanyi dengan hati yang gembira, aku ingin mengekspresikan diriku dengan menyanyikan sebuah lagu yang indah. Hari itu, keberanianku untuk bernyanyi muncul lagi. Di kamar mandi yang sepi, aku menyanyikan sebuah lagu yang paling disukai oleh ibu. Fly Me to The Moon yang dinyanyikan oleh Frank Sinarta.

Fly me to the moon
Let me sing among those stars
Let me see what spring is like
On jupiter and mars

In other words, hold my hand
In other words, baby kiss me


Fill my heart with song
Let me sing for ever more
You are all I long for
All I worship and adore

In other words, please be true
In other words, I love you

OH TUHAN!! Hari ini aku bernyanyi! Aku mulai bernyanyi lagi dengan lantangnya. Aku baru menyadari, permainan musik dengan menggunakan alat bantu pita suara adalah hal yang sangat menyenangkan. TUHAN! AKU INGIN BERNYANYI SEKALI LAGI! AKU MOHON!!

“plok..plok..plok..”

Astaga.. ada seseorang yang mendengarkan aku bernyanyi!

“SIAPA ITU!”

Dari balik pintu toilet satu, ternyata ada seorang wanita dewasa yang mendengarkan aku bernyanyi.

“Suaramu.. mengingatkanku pada seorang almarhum penyanyi terkenal asal Indonesia bernama Anggerti. Lantang, indah, ornamen yang sangat teratur, jiwa vokal yang benar-benar hidup, tehnik yang sangat bagus! Sepertinya kamu sudah menguasai vokal dengan sangat sempurna.”

Dia menyebutkan nama ibuku.. “ANGGERTI” Ternyata ibuku terkenal sampai Boston.

“hmm.. aku..”

“tapi sepertinya aku tidak pernah melihatmu di jurusan vokal? Mestinya, anak seperti kamu mencolok di jurusan vokal! Atau jangan-jangan, kamu bukan anak dari jurusan vokal ya?”

“ya.. aku adalah seorang pianis klasik.”

“APA? PIANIS KLASIK? ANAK YANG MEMPUNYAI SUARA SEINDAH KAMU MASUK KE JURUSAN PIANO KLASIK?”

Kata-kata itu membuatku sangat terpukul. HEY MRS!! AKU JUGA INGIN MASUK KE JURUSAN VOKAL! TAPI APA DAYA! AKU TIDAK BISA! T I D A K B I S A!!

“Maaf.. aku harus pergi.. aku ada kelas!”

Aku pun pergi meninggalkan wanita itu. Dia nampak sangat heran karena aku adalah murid dari jurusan piano klasik. Setelah bertemu dengan wanita itu, aku semakin yakin bahwa sebenarnya aku ditakdirkan untuk menjadi seorang penyanyi. Saat pulang ke asrama aku pun tidak bisa menahan hasratku untuk pergi ke kamar mandi dan .. bernyanyi..

For all those times you stood by me
For all the truth that you made me see
For all the joy you brought to my life
For all the wrong that you made right
For every dream you made come true
For all the love I found in you
I’ll be forever thankful baby
You’re the one who held me up
Never let me fall
You’re the one who saw me through through it all
You were my strength when I was weak
You were my voice when I couldn’t speak
You were my eyes when I couldn’t see
You saw the best there was in me
Lifted me up when I couldn’t reach
You gave me faith ‘coz you believed
I’m everything I am
Because you loved me

Tuhan.. aku sangat mencintai suaraku, aku ingin bernyanyi, aku tidak peduli seandainya aku harus mati karena aku bernyanyi. Aku ingin menjadi seorang penyanyi yang handal, aku ingin membuat suaraku jauh lebih indah!

“COOOOOOOOOOLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLL!!!!!!!!”

“PLOK PLOK PLOK PLOK PLOK..”

Teman-teman asramaku bertepuk tangan. Mereka semua memberikan tepuk tangan yang meriah dengan apa yang aku nyanyikan. Walaupun aku ada di kamar mandi, tenyata teman-teman asramaku mendengarkan di luarnya. Aku merasa seperti ada dalam konser besar. Aku menangis.. aku menangiiss bahagia. Aku merasakan perasaan yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya. Tangis bahagia karena semua orang menyukai suaraku. Hal seperti ini tidak pernah aku rasakan sebelumnya ketika aku bermain piano klasik.

Akhirnya, aku pun keluar dari kamar mandi. Teman-temanku semua memelukku dengan sambutan yang sangat bahagia.

“GILA REN.. kamu bisa nyanyi sebagus itu gimana caranya?”

“Sumpah.. kamu tuh mestinya ada di jurusan vokal, bukannya piano!!”

“Ren..pindah aja ke jurusan vokal!”

Macam-macam pujian aku dapatkan pada hari itu. Aku merasa kepercayaan diriku kembali lagi. Aku mendapatkan spirit untuk bernyanyi yang akhirnya membuat aku medapatkan keberanian untuk meyakinkan ayahku bahwa aku ingin bernyanyi.

BAB III

Keesokan harinya, aku pergi menemui kakak. Aku ingin berdiskusi dulu dengan kakakku sebelum aku mengganti jurusanku menjadi vokal. Saat bertemu dengan kakakku, tiba-tiba aku mendadak gugup. Rasanya aku tidak ingin berbicara tentang masalah vokal, dan aku pun langsung mengganti topik yang tidak sesuai dengan apa yang ingin aku bicarakan.

“Kak.. apa kabarnya hari ini.. hehe.. kakak tinggal dimana?”

Aku membuka pembicaraan dengan hal yang bodoh dan tidak masuk akal. Sepertinya kakakku yang sudah mengetahui watakku dengan sangat jauh langsung mengalihkan pembicaraan.

“Hmm.. Ireneku sayang, kakak udah kenal kamu selama 20 tahun. Ada apa?”

Sial!! kakak tau aku ingin membicarakan sesuatu yang penting.

“hmm..kak.. boleh ngga aku..”

Kakak langsung memotong pembicaraanku dengan kata..

“bernyanyi?”

Tenggorokanku terasa tersedak. Ternyata Kak Arga adalah kakak yang paling mengerti aku. Dia langsung mengetahui jalan pikiranku tanpa harus memberikannya keterangan lebih lanjut.

Setelah mengucapkan perkataan singkatnya yang terakhir dia langsung mengusap kepalaku sambil memelukku.

“Adikku sayang… kakak ingin kamu terus menjalani hidup kamu dengan sehat.. kakak tau kamu pintar bernyanyi. Namun kakak tidak ingin kamu kenapa-kenapa. Kakak ingin terus kamu …”

Aku langsung melepaskan tubuhku dari pelukan kakak.

“KENAPA SIH! MEMANGNYA ADA APA DENGAN BERNYANYI! ADA APA DENGAN PERMAINAN SUARA! ADA APA DENGAN MENYANYI DI ATAS PANGGUNG.. ADA APA DENGAN MUSIK YANG MENGGUNAKAN PITA SUARA SEBAGAI ALAT, PERASAAN SEBAGAI ALAT!! ADA APA KAK! ADA APA! JELASKAN!!!”

Aku marah.. emosi ku meledak-ledak ketika kakak berbicara seperti itu. Namun, dia tetap tersenyum dan menanggapiku dengan tenang. Kakak mengajakku berjalan meuju mejanya dan memperlihatkan dua buah magnet yang menempel.

“Kamu tahu, magnet ini menempel?”

Pertanyaan yang bodoh! Ya jelas saja aku tahu! Aku tidak mengerti maksud kakak menjadikan magnet sebagai contoh.

“Suara kamu sama seperti ibu. Mempunyai magnet tersendiri yang akan membuat orang merinding ketika mendengarkan suaramu. Namun…”

Kakak menggantungkan perkataannya dan melamun.. lalu ia menangis.

“Ada apa kak! Kenapa kakak menangis??”

“Maaf Irene, kakak tidak bisa menjelaskannya lebih lanjut! Kakak tidak ingin memberikan kamu suatu penjelasan yang akan membuat kamu merasa rendah diri!”

“JELASKAN KAK! JELASKAN!! KAKAK SUDAH TERLANJUR MEMBERI AKU SEDIKIT PERTANYAAN MENGGANTUNG!! TOLONG KAK.. TOLONG !! AKU MOHON!!”

Kakak memelukku, dan mengusap kepalaku, ia mencium dahiku dan akhirnya memegang tanganku dengan erat.

“Adikku tersayang.. jika kamu bernyanyi, usia kamu hanya akan bertahan 10 tahun kedepan..”

Aku tersentak, jiwaku terasa di robek-robek, hatiku hancur, MENGAPA HANYA SEPULUH TAHUN! APA SEBENARNYA PENYAKITKU!

“KAK.. selama ini aku tidak pernah merasa mempunyai penyakit apapun! Aku tidak pernah bermasalah dengan suaraku! Aku selalu menyanyi dengan indah dihadapan semua orang! Aku selalu bisa melakukan tugasku sebagai penyanyi ketika aku masih berumur 15 tahun, ketika ibu meninggal!”

Kakakku melepaskan pelukannya, dan memperlihatkan aku sesuatu.

“Lihat ini..”

Kakak memperlihatkan aku sebuah foto ronsen leher.

“Punya siapa ini kak?” Tanyaku

“ini punya kamu ren..”

Ya tuhan, bentuk pita suaraku sangat aneh! Bentuknya seperti jam pasir. Tengahnya sangat tipis, namun ujung-ujungya besar seperti barbel. Lalu kakak memperlihatkan satu ronsen leher lagi. Aku pun bertanya kembali.

“Lalu yang satu ini punya siapa?” tanyaku untuk kedua kalinya.

“Ibu…”

Kakak menjawab dengan singkat. Wajahnya nampak sangat sedih, dan ketika aku perhatikan foto ronsen itu.. BENTUKNYA SAMA! BENTUK PITA SUARAKU DENGAN IBU ADALAH SAMA!!

“Kak.. maksudnya.. apa ini? APA MAKSUD SEMUA INI KAK? APA??”

Kakak hanya diam dan memalingkan mukannya dariku.

“Jadi.. maksud kakak, aku akan bernasib sama dengan ibu jika aku terus bernyanyi?”

Kakak memelukku kembali.

“Sebenarnya pita suaramu sangat bagus, maka dari itu kamu pintar bernyanyi! Namun nasibmu sama seperti ibu ren! Pita suaramu mengalami pembengkakan yang hebat. Hanya ada dua resiko jika kamu meneruskan bernyanyi. Pertama, kamu akan bernasib sama seperti ibu, dan yang kedua adalah kamu akan kehilangan suaramu.”

Perkataan kakak membuat aku benar-benar shock! Aku tidak tahu apa yang terjadi selama ini! Mengapa ini semua terjadi kepadaku! Tuhan.. apa salahku!!

“aku.. aku.. Aku ingin bernyanyi kak.. sungguh.. aku ingin bernyanyi..!”

Kakakku hanya menggelengkan kepala sambil mengusap kepalakku untuk sekian kalinya. Aku pun berlari dari ruangan itu, aku berlari dan kakakku tidak memanggilku.

Apakah aku harus tidak peduli? Apa aku harus tetap mengejar cita-citaku dan mengabaikan apa yang sudah dikatakan oleh kakak dan ayah? Apa yang harus aku lakukan? Ini adalah dilemma terbesar yang pernah aku alami.

Saat aku sampai di asrama, George dan Xiao Li menghampiriku.

“ren.. kamu ngga apa-apa? Kok nangis? Ada apa?” Tanya George.

Seperti biasa, George selalu peduli terhadap keadaanku, seburuk apapun itu. Maaf teman-teman, aku tidak bisa mengatakan tentang hal ini kepada kalian! Aku tidak mau membuat kalian khawatir! Aku sudah bertekad untuk menjadi penyanyi secara diam-diam! Aku ingin menjadi penyanyi!

“Ngga ko George, Li.. aku sedang terharu!! Karena..”

“Karena apa ren?” Tanya Li.

“AKU AKAN BERNYANYI UNTUK KOMPETISI!”

George dan Xiao Li langsung berteriak dan memelukku. Mereka sangat senang karena aku memutuskan untuk bernyanyi lagi.

“BAGAIMANA KALAU KITA RAYAKAN HARI INI!!” teriak George dengan semangat.

“hahaha.. tidak usah dirayakan George…! Aku sudah memikirkannya! Kayaknya.. kompetisi ngga jelek juga lah yaa..!” ujarku.

Xiao Li dan George sangat senang dengan ini smua. Ya aku juga senang karena akhirnya aku mempunyai keyakinan yang kuat untuk bernyanyi. Walaupun aku harus menanggung resiko, mati.. atau bisu.

BAB IV

Aku tidak peduli lagi dengan kakakku atau ayahku. Aku harus bertekad dengan kuat untuk memperjuangkan hakku dalam meraih cita-citaku, meskipun harus mempertaruhkan nyawaku sendiri. Aku akan pindah ke jurusan vokal! Aku tidak peduli ayah menentangku atau tidak! Atau kakak yang membuat aku menjadi semakin gila! Aku harus membuat hidupku menjadi lebih menyenangkan. Setidaknya, jika aku mati pun aku tetap dalam keadaan menjadi seorang penyanyi, bukan pianis yang diinginkan kakak dan ayah.

Hari ini aku pergi ke jurusan pianis untuk mengundurkan diri. Baik ayah maupun kakak, tidak ada yang tahu dengan keputusanku ini. Meskipun aku tidak dibiayai ayah untuk menyanyi, aku janji akan mencari uang sendiri dengan kemampuan bernyanyiku. Setelah mengundurkan diri dari jurusan pianis, aku datang ke jurusan vokal.

“Hey kamu..!”

Seorang wanita yang sepertinya tidak asing memanggilku.

“Kamu gadis yang suaranya merdu itu kan? Yang waktu itu menyanyi lagu Fly Me To The Moon di toilet?”

Oh yaa.. aku baru ingat! Dia adalah wanita yang pertama kali memberikan aku keberanian untuk menyanyi.

“Ya.. benar! Mrs yang waktu itu mendengarkan saya menyanyi dibalik toilet satu yah..! terima kasih Mrs, karena Mrs saya mempunyai keberanian untuk bernyanyi lagi!”

“Wah.. ternyata benar ya! Kamu bukan dari jurusan vokal, jadi kamu mau masuk jurusan ini?” Tanya Mrs yang aku tidak tahu namanya.

“Ya.. aku mau masuk jurusan vokal!”

“BAGUS KALO BEGITU! Nanti aku yang akan menguji kemampuan kamu bernyanyi! Perkenalkan, namaku Mrs.Caroline. Selamat bergabung di jurusan vokal!”

Mrs. Caroline, wanita itu benar-benar penuh energi. Ternyata dia adalah pelatih vokal di jurusan ini.

“baik Mrs. Irene, silahkan masuk ke ruangan ujian menyanyi di …”

Belum selesai staff memberitahu aku tempat uji coba menyanyi, Mrs. Caroline langsung menghentikannya, dan menarikku ke atas panggung.

“BAIKLAH.. MURID-MURID DARI JURUSAN VOKALKU TERSAYANG.. INILAH IRENE.. DIA AKAN MENJADI TEMAN BARU KALIAN DI JURUSAN VOKAL, SEKARANG DIA AKAN MENYANYIKAN SEBUAH LAGU !”

GILA!! Apa-apaan ini! Aku benar-benar terkejut ketika Mrs. Caroline membawaku ke atas panggung untuk menyanyi. Dia pun berbisik padaku

“sst.. karena kamu special, ujiannya disini saja yah!”

Mrs. Caroline langsung turun panggung, dan aku berada di atas panggung sendirian. Semua orang di gedung jurusan vokal itu memberikan aku tepuk tangan yang sangat meriah.

“hmm.. aduh.. ini benar-benar sesuatu yang sangat tiba-tiba.. tadinya aku akan melakukan test di ruangan uji vokal, namun.. entah kenapa aku tiba-tiba ditempatkan disini. Haha.. baiklah, aku akan menyanyikan sebuah lagu dari Whitney Houston dengan lagunya I Will Always Love You.

If I
Should stay
I would only be in your way
So I’ll go
But I know
I’ll think of you every step of
the way

And I…
Will always
Love you, oohh
Will always
Love you
You
My darling you
Mmm-mm

“Terima Kasih..”

“WHOAAAAAAAAAA..PLOK PLOK PLOK PLOK!!”

“SUIITTT..SUUIIWW..SUIIITT..!”

Sambutan meriah itu membuatku merasa sangat percaya diri. Senang, terharu, dan bahagia, bercampur semuanya. Menyanyi dengan gembira, menyanyi dengan sepenuh hati, menyanyi dengan perasaan, sangat berbeda rasanya ketika aku bermain piano. Tanpa rasa, tanpa hati, tanpa cinta, hanya mengandalkan keahilan membaca not balok dan kemampuan tangan yang lihai. Namun ketika bernyanyi, perasaan itu sungguh menyatu, kehidupan, kesedihan, cinta, kesenangan, semuanya bercampur dalam satu jiwa. AKU CINTA BERNYANYI !!!

“Hey Irene.. kamu diterima.” Ujar Mrs.Caroline.

Aku langsung memeluk Mrs. Caroline yang telah membuat kepercayaan diriku muncul setelah hilang beberapa tahun ini.

Keesokan harinya, aku langsung terkenal di fakultas. Aku memikirkan bagaimana jika kakak mengetahuinya, dan kakak pasti akan segera mengetahuinya. Saat jam makan siang, kakak pun menghampiriku.

“Irene..” panggil kakak sambil mengusap kepalaku dengan lembut.

“Pasti kakak.. mau marah ya?”

“hmm.. engga kakak ngga akan marah sama kamu, tapi.. ayah telah mengetahui ini.”

“APA?”

Aku spontan berteriak di kantin kampus, aku tidak menyangka berita ini langsung tersebar ke telinga ayahku.

“dan, kabar buruknya lagi..”

“APA KAK.. APA!!??”

Kakak menundukan kepalanya dan berkata,

“Ayah akan pindah ke Boston untuk mengawasimu.”

Aku hanya bisa diam karena tidak tahu apa yang harus dikatakan. Ini benar-benar mendadak. Apa yang harus aku lakukan jika ayah ada di Boston? AKU TETAP HARUS MENYANYI! AKU TIDAK PEDULI APAKAH AYAH AKAN MENGAWASIKU ATAU TIDAK! INI ADALAH SUARAKU! INI ADALAH HIDUPKU! TIDAK ADA YANG BERHAK MENGHALANGIKU!

Aku langusung meninggalkan kakak dan pergi ke tempat latihan vokal bersama Mrs. Caroline. Aku tidak peduli apakah ayah akan melakukan apa padaku. Aku hanya ingin bernyanyi, dan berekspresi.

Saat tiba di tempat latihan vokal Mrs. Caroline,

“Selamat siang Mrs.Caroline”

“Oh.. Irene, silahkan masuk..!”

“Terimakasih Mrs.”

Aku pun memulai pelajaranku untuk pertama kalinya di kelas vokal Mrs. Caroline. Aku menutupi semua kekhawatiran yang aku alami. Aku tidak ingin Mrs. Caroline mengetahui penyakitku dan melepaskan pengajaran vokalnya karena itu. Bahkan, Mrs. Caroline pun tidak tahu bahwa aku adalah anak dari Anggerti, sang biduan bersuara emas.

Keesokan harinya aku berencana melakukan latihan untuk kompetisi bersama Xiao Li dan George. Kami melakukan latihan di Golden Garden of Boston di sebelah asrama. Kami bertiga melakukan latihan sambil mencari uang.

“Ya itung-itung ngamen lah.. latihan sambil ngamen.. sambil nyelem.. minum air! Ya ngga?” Ujar George

Ketika sampai di taman, kami merasa sangat beruntung karena kebetulan hari itu tidak ada satu orang pun yang ngamen disana. Mungkin karena ini hari sabtu, biasanya pemusik sibuk melakukan konser di beberapa gedung. Namun kami bertiga menyempatkan diri untuk ngamen di tempat ini.

“Para pengunjung Golden Garden, selamat datang.. hari ini kami akan mempersembahkan sebuah lagu yang berjudul More Than Words yang pernah di populerkan oleh Extreme. Selamat menikmati.”

Saying I love you
Is not the words I want to hear from you
It’s not that I want you
Not to say, but if you only knew
How easy it would be to show me how you feel
More than words is all you have to do to make it real
Then you wouldn’t have to say that you love me
Cos I’d already know
What would you do if my heart was torn in two
More than words to show you feel
That your love for me is real
What would you say if I took those words away
Then you couldn’t make things new
Just by saying I love you
More than words

Lagu More Than Words dengan aransemen yang dibuat oleh George dan Xiao Li sangat indah. Suasanya yang agak klasik dibuat semodern mungkin dengan perpaduan gitar dan biola. Menyanyikannya pun menjadi sangan terjiwai.

Semua orang di Golden Garden sangat terkejut dengan penampilan kami. Tidak ada satu pun orang yang mengalihkan pandangannya dari penampilan kami. Alhasil, kami pun mendapat uang yang cukup banyak pada hari itu. Tidak ada satu orang pun yang tidak menyumbangkan uangnya pada kami. Namun…

“IRENE !!!”

Suara itu.. badan itu.. wajah itu.. AYAHKU..!! dia AYAHKU..!! aku pun langsung melarikan diri dari Golden Garden. Ayah dan beberapa ajudannya mengejarku. Aku berlari dan berlari, melewati beberapa jalan di kota Boston, melewati beberapa gang. Aku hampir tertangkap oleh ayah, aku bersembunyi di supermarket yang terdapat di 8th long way little street. Ya tuhan!! Untuk apa aku bersembunyi!! Tidak semestinya aku bersembunyi dari kejaran ayahku! Dia adalah ayahku! Ayah yang membesarkanku! Kenapa aku harus bersembunyi?

“CARI DIA!!!” teriak ayahku.

Dia ada di depanku, aku bersembunyi di balik baju-baju yang ada di supermarket itu. Aku sangat takut, kalau begini caranya bunuh saja aku! Aku bisa mati kalau dia memperlakukanku seperti ini terus! Aku harus kuat! Aku tidak bisa sembunyi.

“AYAH.. AKU DISINI!”

“IRENE!”

Ayahku berlari ke arahku dan.. ia memeluku.

“KENAPA KAMU LARI DARI AYAH? AYAH TIDAK AKAN MEMBUNUHMU!”

Aku melepaskan pelukan ayahku, namun dia tetap memegang wajahku.

“AYAH.. BUNUH SAJA AKU KALAU AYAH TERUS-TERUSAN MEMBUAT AKU TERSIKSA! AKU LEBIH BAIK TIDAK MENJADI ANAK AYAH! AKU LEBIH BAIK MATI KARENA MENYANYI AYAH ! AKU TIDAK MAU MEMBOHONGI DIRIKU SENDIRI DENGAN MEMPELAJARI KLASIK! BUNUH SAJA AKU AYAH! BUNUH SAJA AKU!”

Ayahku melepaskan tangannya dariku, dan menundukan kepalanya sama seperti yang kakak lakukan.

“jadi.. kamu sudah tau ?”

“YA.. aku sudah tahu semuanya ayah.. aku sudah tau, kalau ternyata pita suaraku bermasalah! Aku sudah tau semua resiko yang aku dapatkan jika aku terus bernyanyi! Aku sudah tau kalau aku akan kehilangan suara atau bernasib sama seperti ibu! Aku sudah tau yah! Tapi aku mohon! Aku ingin melanjutkan cita-citaku! Aku ingin bahagia dengan perasaan indah yang aku rasakan ketika aku bernyanyi! Aku tidak peduli apakah aku akan mati atau kehilangan suaraku untuk selama-lamanya! AKU HANYA INGIN BERNYANYI!”

Aku melontarkan semua perasaan yang tidak pernah berani aku katakana pada ayah. Ayah hanya menatapku dengan sendu dan menghela nafasnya.

“kamu tidak akan pernah tahu apa yang ibu kamu rasakan nak.”

Setelah mengatakan hal itu, ayahku langsung membalikan badannya dan pergi tanpa memberikan satu atau dua patah kata.

BAB V

Semenjak kejadian di supermarket, ayah tidak pernah mengusikku lagi. Aku tetap menjalani hari-hariku sebagai seorang penyanyi. Oh ya, aku memenangkan kompetisi bersama George dan Xiao Li, dan kami pun banyak mengikuti kompetisi band juga mendapatkan banyak pekerjaan di beberapa hotel ternama, musik festival, dan lain-lain. Aku mempunyai penghasilan sendiri, dan ayahku tetap memberikan aku uang kuliah. Aku juga menjadi Diva di jurusanku, karena suaraku adalah yang paling merdu di seluruh angkatan.

Namun, suatu hal terjadi setelah dua tahun aku menjalani hidup sebagai seorang penyanyi yang sukses.

“OHOK..OHOK..OHOK..”

“Wei!! Kamu kenapa ren??” Tanya Xiao Li

“Engga,ngga apa-apa, aduh kayaknya aku kena batuk nih! Sakit banget tenggorokan, bentar ya! Aku mau cari obat dulu ke apotek!”

Aku pun pergi ke apotek untuk membeli obat batuk, ketika di perjalanan menuju apotek..

………………

“Aduh.. dimana sih aku?”

“IRENE!! KAMU SUDAH SADAR?”

“kaa…kakk… aku ada dimana.. OHOK..OHOK..OHOK..!”

Aku melihat kakakku disana, aku terbaring dan kakakku menggenggam tanganku dengan sangat kencang. Wajahnya terlihat sangat khawatir.

“Sudah, jangan berbicara dulu yah..!”

“Aku dimana kak?”

“Kamu di rumah sakit, kamu tahu? Kamu sudah koma selama 3 hari!”

Aku sangat terkejut! Tiga hari? Padahal hal yang terakhir aku rasakan adalah ketika aku mau membeli obat batuk di perjalanan ke apotek.

“Kak.. apa yang sebenarnya terjadi padaku?”

Kakakku terdiam lagi. Raut wajahnya sama seperti ketika akan memberitahukan aku tentang penyakitku.

“Katakan saja kak.. aku kan sudah bilang sama kakak, kalau aku akan menerima apa saja yang terjadi. Aku akan siap menerimanya! Ini resiko aku kan kak.. OHOK..OHOK..OHOK!”

“sudah.. sudah.. kamu jangan banyak bicara yah..! nanti susah sembuhnya!”

Kakakku kembali mengusap tanganku dengan lembut. Ia mencium dahiku beberapa kali, dan membuatku merasa sangat nyaman. Tiba-tiba dokter datang ke kamarku.

“wah.. Irene, sang penyanyi.. bagaimana sudah baikan?”

“aahahha.. sudah dok.. terima kasih ya dok, sudah menolong saya.”

“sama-sama, itu sudah jadi tanggung jawab saya kok.”

“jadi dok, kapan saya bisa keluar.. saya harus bekerja lagi! Minggu ini begitu banyak acara yang harus saya datangi!”

“aduh.. Irene, maaf sekali.. tapi untuk sementara ini kamu tidak diperbolehkan untuk menyanyi.”

“LOH? KENAPA DOK? OHOK..OHOK..OHOK..!”

“adikku iren, sudah jangan ngomong dulu!”

“Tuh liat ren, berteriak saja kamu sudah batuk parah, apalagi bernyanyi? Jadi menurut saya sebaiknya jangan dulu ya!” ujar dokter.

“memangnya, saya ini sakit apa dok!”

“jadi..”

Belum dokter melanjutkan perkataannya, kakakku langsung memotongnya.

“DOK.. biarkan saya saja yang bicara sama adik saya! Terima kasih!”

“oh.. ok..ok.. baiklah! Kalau begitu saya akan menangani pasien yang lain dulu yah! Selamat istirahat ya irene!”

Setelah dokter itu pergi, aku langsung menodong kakakku dengan sejumlah pertanyaan.

“kak.. tolong jelaskan sama aku, apa yang sebenarnya terjadi!”

“Irene..”

“SUDAH KAK! AKU MOHON !! JANGAN BERTELE-TELE! AKU TIDAK INGIN KAKAK MEMIKIRKAN PERASAAN AKU SEKARANG! AKU INGIN SUATU HAL YANG KONKRIT!”

“OKE OKE!! Kamu mengidap penyempitan pembuluh di tenggorokan dan pembengkakan pita suara!”

Aku sangat terkejut mendengar itu semua. Aku tidak bisa membayangkan betapa malangnya nasibku.

“Jadi.. maksud kakak? Aku..”

“Ya.. sama dengan apa yang ibu alami..”

Aku sudah tidak punya tenaga lagi untuk berbicara. Energiku di serap oleh perkataan kakak yang tadi.

“hmm.. jadi Cuma sampai sini yah waktuku bernyanyi..”

Aku tersenyum dengan mengarahkan wajah ke kakakku. Kakakku memegang tanganku dan menciumnya.

“Maafkan aku adikku, aku tidak bisa menjagamu, aku tidak bisa membuatmu meninggalkan nyanyianmu! Maafkan aku!! Maafkan!”

“KAKAK!! OHOK..OHOK..! dengarkan aku! Menyanyi adalah hidupku! Sungguh aku rela mati untuk membuat hidupku bahagia! Sungguh kak! Sungguh! Walaupun akhirnya aku harus kehilangan suaraku, atau parahnya kehilangan nyawaku sekali pun! Aku tidak merasa rugi! Karena aku sudah menyempatkan sebagian hidupku untuk bernyanyi! Kak.. aku cinta bernyanyi.. sungguh kak! Sungguh..!”

Setelah berbicara cukup lama dengan kakakku, aku pun tertidur lagi.

Keesokan harinya, aku diizinkan pulang oleh dokter. Namun, aku tidak boleh bernyanyi lagi. Aku harus mengistirahatkan suaraku dan setiap minggu, aku melakukan terapi suara. Sungguh melelahkan! Teman-temanku, Xiao Li dan George akhirnya mengetahui penyakitku. Begitu pula dengan Mrs. Caroline, dia menyuruhku untuk keluar dari jurusan vokal, dan mengambil jurusan piano lagi.

Umurku dalam jurusan vokal juga ternyata hanya dua tahun. Aku setuju dengan apa yang dikatakan oleh Mrs. Caroline sebelum aku keluar dari jurusan vokal.

“Bernyanyilah dalam hatimu lewat musikmu dan pianomu. Bermain musik, walau tidak menyanyi adalah sama-sama memiliki jiwa. Bedanya, kalau bernyanyi kamu mengekspresikannya lewat suara, namun ketika bermain piano kamu akan bernyanyi lewat hati, tangan, dan matamu.”

Terima kasih Mrs. Caroline, kau telah memberikan aku sejuta pengalaman berharga dalam bernyanyi.

BAB VI

Tujuh bulan berlalu, aku kembali pada buku not balok yang mengajarkan aku untuk menjadi pianis klasik. Kembali pada Beethoven, Schubert, Mozart, dan Chopin. Jari-jariku sudah mulai kaku! Aku tidak terbiasa bermain piano lagi. Kakakku mengajarkan aku untuk melatih tanganku lagi. Aku pun mulai mempraktekan bernyanyi lewat tangan, hati, dan mata. Aku harus menyukai permainan piano! Mau tidak mau! Siapa tahu kalau nanti aku sudah sembuh dari penyakitku, aku bisa bernyanyi sambil bermain piano! Bukankah itu lebih terlihat keren?

“OHOK..OHOK..OHOK..!”

Batuk ini.. tidak berhenti.. mengapa?mengapa..?

………

“Irene! Irene! Kamu baik-baik saja?”

“Ah.. George.. Xiao Li.. Kakak.. Ayah..! Ada apa.. OHOK..OHOK..!”

“Sudah nak.. jangan berbicara terus.. sudah diam saja!” ujar ayahku.

Sepertinya waktuku untuk mengeluarkan suara tinggal sebentar lagi. Aku ingin bernyanyi! Aku ingin bernyanyi sepenuh hatiku! Untuk terakhir kalinya!

“Pa..kak.. George.. Xiao Li.. boleh aku meminta satu hal sama kalian?”

“Apa?” Tanya kakakku

“Aku ingin bernyanyi.. sekali lagi!”

“TIDAK!” ujar ayahku

“Ayah tidak akan membiarkan kamu bernasib sama dengan ibumu nak!” jelasnya.

“Ayah.. dulu ayah pernah bilang sama Irene tentang apa yang ibu rasakan kan? Irene sekarang tau.. apa yang ibu rasakan sebelum ia pergi! Ibu.. hanya ingin bernyanyi untuk terakhir kalinya! Ibu tidak pernah menyesal telah menjadi seorang penyanyi.. ibu sangat senang menghabiskan waktunya untuk bernyanyi! Karena bernyanyi adalah hidupnya.. hartanya.. dan cintanya.. dan Irene sekarang merasakan apa yang ibu rasakan.”

Ayahku hanya diam dan memandangku dengan mata yang berkaca-kaca. Aku tahu dia sedih.

“TERSERAH KAU SAJALAH!”

Ayah pergi meninggalkan kamar di rumah sakit dengan emosi yang meledak-ledak.

“Kak.. aku mohon.. aku tidak ingin melewatkan kesempatan ini!”

Kakakku hanya memelukku sambil menangis.

“George.. Xiao Li.. aku ingin kita mempersembahkan penampilan kita untuk yang terakhir kalinya di Golden Garden of Boston ya..”

“Ren..! jangan gitu! Kita yakin kok.. ini bukan penampilan kita yang terakhir! Kita yakin kamu bakalan sembuh! Kita yakin kamu bakal tampil lagi sama kita untuk ke yang seribu kalinya.”

Aku hanya bisa menganggukan kepalaku dan memeluk teman-temanku yang aku sayangi.

BAB VII

Di Golden Garden of Boston. Ini adalah konser terbesar yang tidak pernah aku alami seumur hidupku. Taman ini diubah menjadi sangat mewah. Bunga-bunga cantik di sekelilingnya, dan poster dengan wajahku di seluruh tempat. Ini bukan hanya sekedar menyanyi di umum, namun ini adalah sebuah konser besar! Semua orang dari Universitas Musik Boston hadir. Teman-teman dari kelas piano, kelas vokal, biola, tam-tam, gitar, dan lain-lain, semuanya hadir disini. Panggung yang begitu megah, dengan cahaya yang begitu indah di atasnya, membuat aku sangat terharu dan memberikan aku semangat dan keberanian untuk hidup! YA AKU HARUS HIDUP LEBIH LAMA!

Saat konser dimulai..

“Semua yang hadir disini!!!!!!! Terima kasihhhh!!! Sudah hadir di konsernya Irene, Xiao Li, dan George yaa! Hari ini adalah hari terakhir kami tampil disini. Kami akan mempersembahkan yang TERBAIK untuk kalian! Dengan membawakan lagu Celin dion yang berjudul Because You Loved Me. Lagu ini, saya persembahkan ibu di surga, ayah, kakak saya, teman-teman saya, untuk kalian semua. Saya bisa menjadi kuat seperti sekarang ini, Because You Loved me.”

For all those times you stood by me
For all the truth that you made me see
For all the joy you brought to my life
For all the wrong that you made right
For every dream you made come true
For all the love I found in you
I’ll be forever thankful baby
You’re the one who held me up
Never let me fall
You’re the one who saw me through through it all
You were my strength when I was weak
You were my voice when I couldn’t speak
You were my eyes when I couldn’t see
You saw the best there was in me
Lifted me up when I couldn’t reach
You gave me faith ‘coz you believed
I’m everything I am
Because you loved me

Semua orang di taman bersorak !! menangis!! Aku melihat mereka memanggil namaku ‘IRENE..IRENE..’ ada pula dari mereka yang membawa spanduk dengan tulisan “YOU MUST SURVIVE!” dan berbagai spanduk lainnya yang membuat saya tersentuh.

Dari kejauhan.. aku melihat seorang wanita yang sangat cantik dengan gaun putih sedang bertepuk tangan dan tersenyum padaku. Ia melambaikan tangannya padaku, ya..! aku baru sadar! Itu adalah ibuku!

“OHOK..OHOK..OHOK..!”

Malam itu, di panggung Golden Garden of Boston

………

BAB VIII

Malam itu, di panggung Golden Garden of Boston, adikku Irene Anggira, menghembuskan nafas terakhirnya. Nasib adikku sama seperti ibu, meninggal sesudah ia bernyanyi. Hari itu, tanggal 19 April 2006 adalah hari yang paling bersejarah bagi keluarga kami. Karena pada tanggal 19 april adalah hari ulang tahun ibu. Aku berpikir, apakah sebelum menjelang kematiannya, ibu sempat menjumpainya? Ibu.. Irene.. aku ingin bertemu kalian! Semoga jika nanti aku sudah menyusul kalian, aku bisa bersama dengan kalian.

Lima tahun berlalu..

You were my strength when I was weak
You were my voice when I couldn’t speak
You were my eyes when I couldn’t see
You saw the best there was in me
Lifted me up when I couldn’t reach
You gave me faith ‘coz you believed
I’m everything I am
Because you loved me

Aku mendengar suara yang menyanyikan lagi Celin Dion yang berjudul Because You Love me, ini adalah lagu yang dinyanyikan oleh Irene lima tahun yang lalu ketika ia meninggal dunia. Namun.. sepertinya aku mengenal suara ini! Suara ini..

IRENE!!!!

- SELESAI -

Similar Posts:

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google Bookmarks
  • Blogplay

Posted in Penulisan. Tagged with .

One Response

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.

  1. Ceritanya keren bgt! Hika suka. Ampe terharu bacanya. Terusin berkarnya ya. Sukses dech wat penulisnya.^0^

Some HTML is OK

(required)

(required, but never shared)

or, reply to this post via trackback.

Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes

http://kuliahkomunikasi.com supported by http://cretindo.com