kuliahkomunikasi.com gudangnya ilmu komunikasi

Skip to content


Studi Kasus : Cultural Studies Theory

Hi, i am so sorry for leaving this weblog for a quite long time. Kebetulan, karena saya udah memasuki semester 6, jadi materi yang harus saya sampaikan juga sedikit. So, maybe i am here for sharing many input question.

Ada seorang teman dari Komunikasi UI 2008, yang mau sedikit sharing tentang masalah teori Cultural Studies dimana kajian ini telah muncul sejak tahun 1960-an di Birmingham, Inggris, dengan perintis Richard Hoggart, Raymond Williams, Edward Thompson, dan lain-lain. Teori yang seru banget buat di bahas, soalnya menyangkut sama budaya di Indonesia. Sebenernya, ga cuma di Indonesia, tapi di seluruh dunia juga. O

Helo, saya Gilang dari komunikasi UI 2008,
anyway, kemaren saya UAS TeKom soal yang pertama, membahas soal Facebook. Clues yang diberikan saat itu, keberadaan FB telah mengubah (shift) perilaku komunikasi masyarakat.

Ok, here the Question :

Menurut Anda, teori apakah yang cocok ke kasus tersebut?
Pada UAS kemarin, akhirnya saya pilih pendekatan dengan teori Media Ecology (Marshall McLuhan, Neil Postmann, 1970-an).

Terlepas dari itu semua, seusai ujian, Dosen saya, Mbak Billy Sarwono, mengatakan, teori yang matched untuk analisis kasus tersebut adalah Cultural Studies.

Jika Anda setuju dengan pendapat dosen saya ini, berikan penjelasan dengan logika dan asumsinya.

Terimakasih.

Regards,

Gilang Reffi Hernanda

Hello Gilang, tentang Facebook yang mengubah “shift perilaku manusia” sesuai dengan Cultural Studies Theory, saya setuju.. Mengapa?

Salah satu ciri cultural studies adalah menempatkan teori kritis sebagai basis analisa. Pengertian teori kritis di sini mencakup metode metadisiplin (beberapa ilmu alat yang dipertemukan, seperti semiotika, filologi, hermenetika, dan sebagainya) dan post-disciplinary (mengabaikan ilmu alat ketika analisa dirasakan telah mencapai upaya membangun teori baru). cultural studies akan menggiring kita kepada pemahaman bahwa setiap era (age), lokalitas, dan konteks masyarakat memiliki libido sosial yang tidak seragam.

Okay, let me share the simple one

Cultural studies memberikan pemahaman bahwa setiap era itu mempunyai “kebudayaan” yang berbeda pula. Coba kita lihat dari kenyataan, jaman dulu handphone susah banget ya? tapi sekarang kayaknya kita lihat mang becak juga pake handphone. Nah begitu juga dengan FACEBOOK. mengapa dikatakan mengubah shift perilaku manusia. karena, jaman sekarang siapa sih yang ngga punya facebook. Bahkan banyak lho, yang sangat “addict” sama facebook. Facebook dengan fitur nya yang super lengkap : ada games, email include, social networking, bahkan seakrang dia udah buka marketplace sendiri (mau nyaingin e bay kali ya?).

Shortly, manusia menjadi mempunyai tambahan kesibukan sendiri untuk membuka facebook di era kini (now age). Sesuai sama theory cultural studies, bahwa setiap era itu mempunyai libido yang berbeda. Mungkin di masa yang akan datang, kebudayaannya akan berubah sesuai dengan perkembangan jaman.

Yang menariknya lagi dari theory ini, dimana, ternyata perkembangan jaman bisa mengabaikan teori loh. Teori lain akan muncul sesuai dengan perkembangan jaman, dan perkembangan kebudayaan.

Mungkin, ini yang bisa saya sedikit jelaskan mengenai Cultural Studies. Kalo ada yang mau share? ditunggu sekali. :)

Regards,

Nadia Sabrina Dwiumami


Similar Posts:

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google Bookmarks
  • Blogplay

Posted in Studi Kasus.

4 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.

  1. Wah, senang sekali ternyata pertanyaan saya mendapat tanggapan dari pemilik situs ini-kak nanath.

    Anyway, baiklah, kini waktunya saya memberikan argumentasi saya soal jawaban yang dipaparkan di atas. Menilik kalimat kak nanath yang menyebut satu teknologi sebagai representasi suatu zaman atau era tertentu, bukankah itu malah mendekatkan proksimitasnya dengan premis tawaran McLuhan lewat teorinya, Media Ecology? Beliau, dengan lantang kalimat yang lekat sekali dengannya-dan teorinya-”the medium is the mass-age” atau “the medium is the message”.

    Jika dilihat dari paparan di atas, saya kok lebih menemukan ‘jiwa’nya di teori McLuhan ketimbang dari Cultural Studies yang betitik tekan pada studi pergulatan hegemoni budaya-sebagaimana kita tahu, pemikiran Marx menginspirasi munculnya teori ini- pada media massa. Disebutkan, media akan menampilkan budaya yang dibawa oleh kaum dominan-dalam kasus ini, elite penguasa-sebagai budaya yang harus diagung-agungkan-bahkan mungkin direplikasi.

    Bila kembali ke persoalan FB, bagaimana bentuk keterkaitannya dengan Cultural Studies, terutama dalam hal ideologi, kesadaran, hegemoni, maupun pergulatan hegemoni sebagai konsep-konsep utamanya?

    Sedangkan, jika kita menengok ke teori McLuhan, pemikiran kita bisa senyawa. Di dalam teorinya, McLuhan menyebutkan klasfikasi era manusia (mass-age) berdasarkan teknologi yang diadopsinya. Mulai dari zaman prasejarah (saya lupa istilah teknisnya), zaman tulisan, printed era, dan electronic era. Setiap zaman punya penanda sendiri, yang dalam kasus ini tak lain ialah ‘teknologi’.

    Bagaimana menurut kak nanath?
    Mari kita berdiskusi bersama untuk menemukan mana dari kedua teori tersebut yang paling sesuai sebagai alat analisis kasus FB.
    Ikut sertakan pula kawan maupun dosen yang kak nanath kenal.

    Have a nice discussion!!

    Regards,

    Gilang Reffi Hernanda

  2. catazaro ixzan said

    waaah pny ku juga iya tapi lupa jwabe hehehe

  3. celia natalia said

    Bu Nadia,
    apakah punya usul pendekatan teori yang cocok untuk diterapkan pada kasus masyarakat bawah seperti pedagang kaki lima (PKL), warung tegal (warteg)/warung angkring? sy diberi tugas utk meneliti komunikasi kelompok sosial ini, punyakah usulan uku rujukan yang harus sy baca?
    thanks, celia

  4. cluenya kurang lengkap, jadi menurutku jawaban bahwa facebook bisa di kaji dengan teori media ecology sah sah saja. Dan jawaban dosen yang bilang kalo bisa di kaji dengan cultural studies juga bisa diterima.
    Kalau masalahnya adalah perubahan perilaku (behavior) maka sebaiknya teori yang digunakan adalah teori2 yang menjelaskan media baru dna behavioral change seperti pada awal kemunculan tv. Kalau yang di tanyakan perubahan habitus maka yang sesuai ya teorinya Bourdieau yang juga terkadang di kategorikan ke dalam kelompok teori cultural studies. Kalau cultural studi sebenernya masih terlalu luas dan general, harusnya lebih dispesifikasikan sesuai dengan masalahnya.
    Kalau masalahnya adalah pemaknaan audiens terhadap posting yang bersifat many-to-many maka teori2 audiens receptions menjadi sahih, akan tetapi kalau yang dikaji adalah potensi timbulnya sebuah ruang publik baru di jejaring sosial maka teori tindakan komunikatif dari habermas menjadi lebih powerful untuk mengupas hal tersebut.

Some HTML is OK

(required)

(required, but never shared)

or, reply to this post via trackback.

Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes

http://kuliahkomunikasi.com supported by http://cretindo.com